Memahami Tentang Stock-to-flow dalam Dunia Crypto

Stock-to-flow adalah salah satu teknik utuk menganalisa yang mana teknik ini banyak di gunakan oleh pelaku pasar komoditi, contohnya logam, emas dan lainnya untuk memprediksi harga di masa depan. Perhitungan stock-to-flow sendiri mengacu pada stock, apa itu stock? Stock merupakan jumlah komoditi yang beredar kemudian dibandingkan dengan jumlah produksi (flow) dalam kurun waktu tertentu.

Namun, kini penggunaan model stock-to-flow telah merambah pasar aset kripto. Dimana, analisis ini biasa digunakan untuk memprediksi harga Bitcoin di masa depan. Dalam memprediksi harga Bitcoin, analis tidak hanya memperhitungkan jumlah aset yang beredar dan angka produksinya. Namun, perhatikan juga fenomena separuh.

Halving adalah kondisi di mana penambang Bitcoin akan menerima penurunan 50% dalam hasil (block reward) setiap empat tahun. Kondisi ini akan mengurangi pasokan Bitcoin dan membuat raja aset kripto semakin langka di pasaran.

Model Stock-to-Flow Merupakan Cara untuk Bisa Memprediksi Nilai Bitccoin

Analisis prediksi harga Bitcoin menggunakan model stock-to-flow pertama kali diperkenalkan oleh investor institusional Belanda dengan moniker Plan B. Model ini ia gunakan pada tahun 2019 dengan latar belakangnya di bidang keuangan.

Dia berasumsi bahwa harga Bitcoin di masa depan akan sangat dipengaruhi oleh kelangkaan pasokannya di dunia maya. Apalagi pasokan Bitcoin sudah diketahui publik, yakni sebanyak 21 juta keping yang semula akan ditambang pada tahun 2140. Selain itu, publik juga mengetahui bahwa fenomena separuh akan terjadi setelah 210 ribu Bitcoin telah ditambang, atau setiap empat tahun.

Plan B dilakukan analisa regresi pada riwayat harga dengan berdasar kedua informasi sebelumnya. Hasilnya, ia menemukan korelasi positif antara harga Bitcoin dan model stock-to-flow. Bahkan, ia juga menyebutkan bahwa korelasi antara keduanya bukanlah kebetulan dan dapat dijelaskan secara statistik.

Model Stock-to-Flow Adalah Analisis Yang Mulai Diadopsi

Dalam analisis awalnya, dalam Plan B disebut nilai bitcoin pada mei 2020 akan menyentuh harga US$ 1 triliun yang mana perchipnya akan memiliki harga US$ 55.000. Prediksinya terbukti lebih dari setengah bulan kemudian, pada Februari 2021.

Ia juga memprediksi nilai kapitalisasi pasar akan datang dari negara-negara yang memiliki suku bunga rendah. Ia juga memiliki prediksi bahwa akan banyak orang kaya dunia yang akan terjun dalampasar Bitcoin dengan tujuan bisa melindungi kekayaan mereka akibat kebijakan pelonggaran kuantitaif yang menyebabkan penurunan nilai dolar AS.

Kemudian, pada kesempatan yang sama, Plan B bahkan memprediksi investor institusional akan bersaing memperebutkan ceruk pasar Bitcoin karena memiliki kinerja yang baik. Hal ini juga sudah terbukti sepanjang tahun 2021.

Akibatnya, para analis sekarang mulai mengadopsi model ini untuk memprediksi harga Bitcoin di masa depan. Jika cara ini benar, maka harga Bitcoin bisa menyentuh US$100.000 pada 2021, US$1 juta pada 2025, dan US$10 juta pada 2029.

Kritik terhadap Model Stock-to-Flow

Namun, model stock-to-flow merupakan analisis yang masih mengundang kritik. Salah satunya datang dari Chief Investment Officer Strix Leviathan, Nico Cordeiro.

Dalam opininya di Coindesk, ia menilai metode penghitungan kapitalisasi pasar dengan menggunakan pasokan baru suatu aset belum pernah dibuktikan dalam penelitian sebelumnya. Padahal, menurut analisisnya, tidak ada kaitan tunggal antara harga emas dengan model stock-to-flow dalam 115 tahun terakhir.

Selain itu, dia juga menilai model stock-to-flow akan membuat prediksi yang agak mencurigakan. Pasalnya, harga Bitcoin bahkan diprediksi akan mencapai US$45 juta per chip pada tahun 2045 jika menggunakan analisis ini.

Pintu adalah aplikasi jual beli bitcoin dan aset crypto lainnya yang telah terdaftar resmi di Bappebti. Di Pintu, kamu bisa mengecek pergerakan harga aset, membaca berita-berita terbaru tentang crypto serta melakukan investasi dan trading hanya mulai dari Rp11.000 saja, lho. Download Pintu sekarang!